Tuesday, July 29, 2008

Membaca karakter orang lain

BY tyasjetra IN 93 comments

Yas, kamu itu keliatan sekali karakternya begini.. begini.. bla..bla..bla..
Sering sekali aku ketemu sama orang yang (merasa yakin) bisa membaca karakterku/ karakter orang lain.

Trus, setelah dia tanpa aku minta, "membaca" dan "meneropong" rincian sifat2ku, dia pasti tanya.. "Bener kan Yas..?"

Aku bingung harus jawab apa. Beneran, bingung.. Kalo aku bilang salah, duh kasian banget nih orang. Tadi dia bicara udah dengan keyakinan luar biasa. Dia udah merasa, he knows me better than my self..! Masa aku harus mematahkan semangatnya gitu aja?

Seringnya aku jawab, "Duuh kok bisa tau gitu sih..? Hebat banget bisa tau karakterku, backgroundnya psikologi ya..?" Atau, dia akan lebih berbunga-bunga lagi kalo aku jawab, "Eh, jangan-jangan kamu paranormal nih, bisa membaca karakter precisely gitu.."

Tapi pernah juga aku jawab jujur, "Ah, salah banget, bukan aku banget tuh sifat2 yg disebutin tadi.." Dan dengan yakin bin ngeyel dia bilang, "Kamunya nggak sadar Yas, tapi pasti karakter aslimu tuh ya yg kaya saya sebutin tadi.." Ya sudahlah, aku ho'oh2 aja. Menyenangkan hati orang kan banyak pahalanya..

Nggak cukup sampe di situ aja, merasa tebakan/bacaannya bener, diterusin deh tuh menggali dan membaca lagi karakterku, begini begitu.. bla bli blu..
And I just manthuk2 n ho'oh2 kaya tadi.. Tidak lupa sekali2 memuji kehebatan ilmu terawangannya.

Pulang2, asistenku bilang, "Mbak, orang itu tadi kok kekeh banget ya mbak, padahal yg dia omongin itu nggak ada yang bener.. Mbak juga kok iya2 aja sih..?"
Begitu tuh, pendapat orang yang setiap harinya, dari pagi sampe malem ngerti sepak terjangku selama bertahun-tahun. Jadi pastinya, asistenku lebih ngerti karakterku kalo dibanding orang yang ngaku2 pinter membaca karakterku tadi toh?

Lagian, bukannya membaca karakter orang lain itu sebaiknya digunakan dan dimanfaatkan untuk diri sendiri? Supaya kita tau bagaimana cara menghadapi orang, menyenangkan hatinya, atau justru untuk menaklukkan orang itu. Kecuali kalo emang orang lain meminta kita untuk baca karakter dia (kalo kita bisa).

Aku malah jadi bisa dengan jelas membaca karakter si pembaca karakterku tadi. Sok tau, sok iye, gak mau dibantah, n haus pujian. Cara nge'kick' orang kaya gitu? Gampang.. Tapi gak laaah, aku kan baik hati dan tidak sombong.. berhati mulia dan rajin menabung, hehe..

Postingan ini cuma sebagai pelampiasan kegemesanku aja. Nggak bermaksud apa-apa. Soalnya, hari Minggu kemarin aku ketemu lebih dari tiga orang yang kaya gitu. Emangnya kalo hari Minggu di jidatku ada tulisan 'baca karakterku, please' apa?? Grrr...

Wednesday, July 23, 2008

Lihatlah ke dalam..

BY tyasjetra IN , 45 comments

Ampir 2 minggu gak bikin postingan baru nih, gara2 ada kerjaan yang mengharuskan aku nginep. Nggak bawa laptop, lokasi jauh dari warnet.. Cuma sempet sekali2 ol dr hape, ngeshout kesana sini..

Kerjaanku kemarin muter ke Puncak, Lembang n Maribaya. Wiiih, dingin buanget.. Perasaan dulu aku kesana nggak sedingin itu deh udaranya. Kata penduduk sana juga nggak biasanya sedingin ini. Biasa kepanasan di Jakarta, di sana dinginnya bener2 bikin nggak konsen. Mana kerjaanku tiap harinya rata2 selesai jam 3 pagi, di alam terbuka pula. Hiii, dinginnya menusuk sampe tulang sumsum.

Selesai kerja, balik ke base camp sekitar jam setengah empat pagi. Sama sekali nggak bisa tidur walaupun ngantuk berat. Badan nggak bisa dicegah gemeternya meskipun udah pake sarung tangan, kaos kaki, tutup kepala, jaket, shawl, selimut deelel. Ya udah deh, duduk di sofa, minum teh anget n baca buku aja. Pas bawa buku 'The Power of Now' punya Eckhart Tolle. Cerita di bawah ini aku ambil dari Bab 1 dari buku itu. Kalo buat direnungkan, bagus juga buat kita/mereka yang selama ini merasa 'nggak ada/nggak punya apa2' dalam dirinya, n nggak pernah berusaha melihat nilai dan harta yang ada di dalam diri mereka sendiri.

Seorang pengemis telah duduk di tepi jalan selama lebih dari 30 tahun. Pada suatu hari, seorang asing berjalan melalui jalan itu.
"Minta sedekah, Tuan.." pengemis itu bergumam dan secara otomatis menyodorkan topinya yang sudah kumal.
"Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan.." kata orang asing itu.
Kemudian orang asing itu bertanya, "Apa yang kau duduki itu?"
"Bukan apa-apa.." jawab si pengemis. "Hanya peti tua. Saya telah duduk di atasnya selama bertahun-tahun.."
"Pernahkah engkau mencoba melihat ke dalamnya..?" tanya orang asing itu.
"Tidak." kata pengemis itu. "Apa gunanya? Tidak akan ada apa-apa di dalamnya.."
"Lihatlah ke dalam." desak orang asing itu.
Pengemis itu berusaha membongkar tutupnya. Dengan penuh ketakjuban, rasa tidak percaya dan kegembiraan serta tentunya juga penyesalan, ia melihat bahwa ternyata peti itu penuh berisi emas. Peti yang selama bertahun-tahun ada dibawahnya, didudukinya, dan menemaninya meminta-minta uang receh dari setiap orang yang lewat. Seandainya saja sejak dulu ia mau meluangkan waktu untuk melihat ke dalamnya..


Tafsirkan sendiri apa pesan yang ada di cerita di atas yaaa...

Saturday, July 12, 2008

Jangan Menunda Kebahagiaan

BY tyasjetra IN , 50 comments

Beberapa hari yang lalu aku kumpul2 sama temen2 di salah satu kafe. Ngobrol sana ngobrol sini, akhirnya pembicaraan kita nyangkut ke masalah kebahagiaan hidup. "Hidup kamu bahagia nggak nih sekarang..?" Aku agak2 kaget n miris denger jawaban temen2ku. Dari 8 temen2ku, 9 termasuk aku, cuma 2 yang bilang bahwa mereka bahagia.

Trus kenapa mereka (merasa) nggak bahagia?
Jawabannya antara lain gini nih:
"Abis, beratku belum bisa turun2 nih, masih harus kurangin 5 kilo lagi.."
"Ntar kalo mobil gue udah ganti yang itu tuh, baru deh gue happy.."
"Kalo taun ini gue gak bisa mencapai grade 5 di kantor, jangan ngomongin happy deh, jauuuuh."
"Mana bisa happy gue, saldo tabungan gue menyedihkan.."

Temen2ku emang nggak cuma ngeluh, mereka berusaha mencapai standar kebahagiaan mereka. Bukan cuma berusaha, tapi ngejar, ngoyo, jungkir balik sampe nggak bisa menikmati hidupnya dalam proses pengejaran kebahagiaan itu. Apa enaknya hidup tapi nggak menikmati detik2 perjalanan hidup itu sendiri?

Menurut aku, kebahagiaan ada dalam Cara Hidup, bukan hanya Tujuan Hidup. Dengan keadaan kita sekarang, bagaimanapun itu, kalau kita mau jujur, banyak sekali karunia yang kita miliki dan bisa membuat kita bahagia. Kebahagiaan ada pada penghargaan yang kita berikan terhadap apa yang kita miliki sekarang.

Jangan suka menunda kebahagiaan. Aku nggak pernah 'menunda' untuk merasa bahagia. Rugi! Kita selalu bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri dari waktu ke waktu. Jangan pernah membuang satu moment yang nyata2 sudah kita punya sekarang ini, cuma karena kita lagi ngejar moment yang lain di masa depan. Bukan berarti nggak perlu ada pengorbanan loh, cuman ya, nggak usah gitu2 amat deh.

Kalo kita ngejar impian dengan sama sekali nggak nikmatin masa sekarang, takutnya gini.. Pas impian itu tercapai, kita belum sempet nikmatin happynya, udah nongol lagi tuh impian yg baru, (manusia kan gak pernah ada puasnya).. Trus kita kejar lagi, kebuang lagi happy momentnya.. Kapan happy nyaaa..??

Ngeblog aja yuuuk, biar happy teruuuuss.....


PS: aku bikin abstraksi lagiii.. liat di sini yaa..

Monday, July 7, 2008

Angela's Message

BY tyasjetra IN 23 comments

Diambil dari Chicken Soup for the Woman's Soul


Ketika Angela masih amat muda, usia dua atau tiga tahun atau sekitar itu.
Ibu dan Ayahnya mengajarnya, untuk jangan pernah mengatakan TIDAK.
Mereka mengajarkan bahwa dia harus setuju dengan apa saja yang mereka katakan.
Dan jika dia tidak menurut, dia dipukul lalu disuruh pergi tidur.

Maka Angela pun tumbuh, menjadi anak yang paling penurut.
Dia tak pernah marah, tak pernah liar. Dia selalu berbagi, selalu penuh perhatian.
Dia tak pernah berkelahi, dan tak mempersoalkan apa yang dikatakan orangtuanya.
Dia yakin mereka benar.

Angela adalah murid yang sukses di sekolah.
Dan seperti yang Anda duga, dia mengikuti semua peraturan.
Guru-gurunya mengatakan dia keturunan orang baik-baik, begitu tenang dan begitu baik.
Tapi apa yang dirasakan Angela dalam hati mereka tak pernah mengerti.

Angela memiliki banyak teman, yang menyukai senyumnya.
Mereka tahu dia adalah gadis yang selalu memberikan lebih.
Bahkan saat sedang sakit dan butuh istirahat, ketika seseorang meminta bantuannya,
dia selalu menjawab YA.

Ketika Angela berusia 33 tahun, dia adalah istri seorang pengacara.
Dia memiliki rumah dan keluarga, dan kehidupan yang baik di pinggir kota.
Dia mempunyai putri kecil berusia 4 tahun, dan bocah lelaki 9 tahun.
Jika seseorang bertanya bagaimana perasaannya, dia selalu mengatakan, "baik-baik saja."

Namun di suatu malam dingin, saat keluarganya sedang tidur.
Dia terbaring dalam keadaan sadar, dan pikiran2 ganjil berkecamuk di kepalanya.
Dia tak tahu mengapa atau bagaimana, tapi ia ingin hidupnya berakhir.
Ia memohon kpd Siapapun yg telah menempatkannya disini, untuk mengambilnya kembali.

Lalu ia mendengar, dari kedalaman dirinya.
Satu suara yang lembut dan lemah.
Suara itu hanya mengatakan satu kata saja.
Dan kata itu adalah TIDAK.

Sejak saat itu Angela tahu dgn pasti, apa yg seharusnya ia lakukan.
Hidupnya bergantung pada kata itu, dan kemudian inilah yg didengar orang2 yg dicintainya,
TIDAK, aku tidak mau;
TIDAK, aku tidak setuju;
TIDAK, kamu sendiri yg harus mengatasinya;
TIDAK, bagiku itu keliru;
TIDAK, aku ingin yang lain;
TIDAK, itu sangat menyakitkan;
TIDAK, aku capek;
TIDAK, aku sibuk;
TIDAK, TIDAK, aku lebih suka TIDAK.

Keluarganya sangatlah kaget, teman2nya terperanjat.
Angela kini berbeda, dapat Anda lihat pada matanya.
Mereka tak lagi mendapatkan kepasrahan seorang penurut.
Sejak malam itu tiga tahun yg lalu, ketika Angela memperoleh izin utk mengatakan TIDAK.

Kini Angela, 36 tahun, adalah seorang pribadi, seorang ibu, dan seorang istri.
Dia tahu di mana harus memulai dan berhenti, dia memiliki hidupnya sendiri.
Dia memiliki bakat dan ambisi, dia memiliki perasaan , kebutuhan dan tujuan.
Dia memiliki uang di Bank, dan berani berpendapat dalam suatu diskusi.

Kepada putra-putrinya dia mengatakan,
"Memang baik kalau kita setuju."
"Tapi jika kalian tak bisa mengatakan TIDAK, kalian tak akan pernah menjadi dewasa sebagaimana harusnya."
"Karena Mama tahu, terkadang Mama salah."
"Dan karena Mama sangat mencintai kalian."
"Kalian tetaplah malaikat-malaikat Mama, bahkan jika kalian berkata TIDAK kepada Mama."



Barbara K. Bassett

Friday, July 4, 2008

Abstraksi, Resensi dan Ringkasan Buku

BY tyasjetra IN 23 comments

Buat yang hobi baca buku dan nulis-nulis, ada website yang bisa nyalurin hobi kita itu. Shvoong namanya. Aku udah ikutan n udah nyoba bikin abstraksi dari buku favoritku, You Can If You Think You Can.

Jadi di Shvoong, kita bisa bikin abstraksi, ringkasan atau resensi dari buku, surat kabar atau blog yang kita inginkan. Website ini sebetulnya hampir (atau memang) seperti Paid Review program, cuma bedanya kalau di Shvoong, kita yang nentuin sendiri buku atau blog apa yang mau kita bikin resensi/abstraksinya. Dan hasil tulisan kita akan dipajang di Shvoong itu sendiri. Kita juga dianjurin bikin posting tentang hasil abstraksi, resensi atau summary kita itu di blog kita. Kaya yang lagi aku lakuin gini nie..

Setelah kita bikin resensi, kita nggak langsung dibayar kaya kalo kita join di Sponsored Reviews, Blogsvertise, Review Me atau lainnya, kayaknya (sorry aku belum ngeh banget soal cara bayar membayar ini) Shvoong akan bayar kita kalo tulisan kita udah banyak dibaca orang. Dan juga kalo kita bisa ngajak orang gabung n orang itu aktif bikin abstraksi/resensi juga.

Aku belum pelajari banget soal 'matematika'nya, jadi kalo tertarik pelajari sendiri yah.. Aku cuma excited ikut nulisnya. Waktu diajak gabung ma temen kemarin, langsung join n udah bikin satu abstraksi dong.. (gitu aja bangga ya..?). Ada yang udah bikin abstraksi ratusan/ribuan buku loh. Mudah2an aku juga bisa begitu, buat ngelatih nulis juga kan.. Tersedia dalam 34 bahasa lagi, jadi aku nggak harus nulis dalam bahasa Inggris. Secara, Englishku masih 'plitat-plitut', hehe..

Mau pamer abstraksiku sedikit boleh yaa..


Kalau ada buku yang bisa membuat saya menjadi sangat percaya diri dan termotivasi untuk bergerak dan meraih impian saya, buku inilah yang saya maksud. Cara bertutur dari buku ini jauh dari kesan menggurui. Cerita tentang pengalaman penulis dan orang-orang yang telah 'tersentuh' oleh pandangan dan motivasi yang disampaikan secara persuasif oleh penulis menjadi daya tarik buku ini.Walaupun buku ini ditulis.. silahkan lihat lanjutannya di sini.


Bikin abstraksi buku lain lagi aaah..



Shvoong
World wide abstract site

Wednesday, July 2, 2008

Kamu mirip siapa..?

BY tyasjetra IN 19 comments


Nemu situs buat lucu-lucuan nih.. ilooklikeyou.com. Kita register n upload foto kita di sana trus tinggal klik "Find My Look-alike". Muncul deh wajah-wajah yang mirip (agak-agak maksain dikit miripnya) sama wajah kita.. Kita tinggal klik menuju profile orang tersebut and add them..

Berhubung mungkin yang banyak register di sana orang2 bule, jadi wajah yang mirip sama aku orang bule semua.. Hehe, beda banget sebenernya..

Pada join dong.. Buat seru-seruan ajjah..

Nulis diary, penting nggak sih..?

BY tyasjetra IN 11 comments

Diary itu penting banget (menurut aku). Yang pasti, buat ngelampiasin uneg-uneg di hati. Entah hatiku lagi seneng, ato lagi sedih, aku tulis semuanya di diary. Rasanya lega kalo udah nulis, serasa udah ngobrol sama sahabat deket. Dan enaknya lagi, mereka nggak mengkritik kita atas apa yang udah kita lakuin (and ceritain) ke dia. Bener-bener pendengar yang baik..

Aku mulai nulis diary dari kelas 6 SD. Inget banget, buku diary pertamaku dulu tuh dikasih sama Omku. Agenda dari kantornya dia, bukunya tebel, warnanya biru

Dulu pertama nulis, tentang hari-hari di sekolah baruku. Aku anak baru di kelas 6, pindahan dari Jakarta ke Semarang. Aku cerita tentang enak nggak enaknya jadi anak baru, belum bisa ngomong bahasa Jawa kalo lagi ngobrol sama temen-temen baruku. Dan cerita-cerita lain deh, ceritanya anak SD..

Lama-lama, udah keasikan nulis diary, nggak terasa buku tebel itu abis, ganti lagi, n ganti lagi, sampe sekarang mungkin udah ada sekitar 25-30 buku. Semuanya masih komplit. Aku simpen di satu peti, khusus my diary. Aku sebut itu peti kehidupanku..

Nama diaryku ganti-ganti, pertama namanya Trixie (lupa, nama itu dapet darimana), trus Pinky (dulu kegilaan warna Pink), trus sejak SMP ato SMA yah, namanya udah fix, Cezar, sampe sekarang..

Nama Cezar aku ambil dari nama petinju (di waktu itu), yang nggak pernah kalah. Menang terus. Julio Cezar Chavez. Sekarang sih dia udah gak tinju lagi, udah tuwir kale.. Jadi pelatih aja.

Kenapa kok ngambil dari nama petinju? Satu-satunya sport yang aku suka tonton cuma tinju. Ada juga cabang lainnya yang aku suka, kaya tennis or badminton tapi nggak sampe segila kalo aku nonton tinju. Kalo ada tinju di TV, bela-belain deh bangun pagi n nggak pergi kemana2 buat nonton.. N kalo udah nonton, brisik banget, sampe teriak2 n ikut-ikut ninju gitu serasa kita yang lagi ada di ring. Tapi semua itu dulu lho, sekarang sih masih suka nonton tapi udah lebih 'manners' waktu nonton..

Dulu waktu aku overweight, diaryku ngebantu banget buat berdisiplin nurunin berat badan. Aku tulis hari Senin boleh makan apa aja, Selasa apa, Rabu apa dst. Aku tulis gede-gede makanan apa yang 'sangat dilarang' untuk dimakan. Aku nempel foto-fotonya orang/artis yang bodynya oke buat memotivasi diri supaya disiplin berdiet. Karena kalo mau nempelin foto2 n slogan2 motivator kaya gitu di tembok kamar kan malu, pasti abis deh diledekin sama kakak, adik n orang2 serumah. Mereka manggil aku aja 'embot'.. Hiks, hiks..
Thanks for my diary, aku udah nggak overweight lagi.. Nggak papa deh sampe sekarang masih ada yang manggil embot. Emang kebiasaan lama susah diilangin..

Tapi ada juga akibat yang kurang bagus (oke deh.. buruk) dari punya diary buat aku. Aku ini orangnya agak-agak pendendam. Susah banget ngelupain kalo ada orang yang udah nyakitin hati. Dengan adanya diary ini, ada lengkap tuh kapan, dimana, perbuatan apa dan kata2 apa yang pernah diucapkan orang yang nyakitin hati aku. Jadi, sampe sekarang aku masih inget temen SMP ku, si ini, pernah nyakitin aku dengan kata-kata bla bla bla.. dengan perbuatan begini begitu..

Biasanya, kalo aku baca-baca ulang lagi diaryku, di bagian yang menyakitkan ini kertasnya suka sobek, atau tulisannya nggak jelas. Kenapa tu? Hehe, pasti nulisnya dulu sambil nangis, kertasnya basah kena air mata jadi gampang sobek, tintanya luntur (aku selalu nulis diary pake fullpen/pen yang diisi tinta, mata pen nya aku kikir miring, jadi tulisannya bagus, kaya jaman dulu banget).

Mungkin aku akan nulis diary terus sampe aku nggak bisa nulis lagi. Sekarang2 ini aja, walaupun aku udah agak kesulitan menulis di buku karena jariku rada cacat karena digigit ularku, aku tetep nulis di komputer, tiap setengah taun aku print and jilid (bukan diary yang di blog ini lho, ada yang asli yang top secret, unpublished). Karena menurut aku, nulis diary itu pentiiiing banget..

Kalo menurut temen-temen, nulis diary penting nggak sih..?