Pengen banget rasanya jadi orang yang bisa selalu punya rasa percaya diri yang tinggi, dimanapun n kapanpun. Tapi kadang kita diharuskan untuk ketemu dengan suasana dan orang-orang yang nggak ngenakin, bikin kita down, n nggak bisa munculin rasa percaya diri kita sama sekali. Aku abis ngalamin hal kaya gitu kemarin-kemarin di tempat kerja. Rasanya lebih pengen nangis daripada pengen marah. Orang kok bisa bertindak seenaknya, tanpa mau tau gimana rasanya kalo mereka yang diperlakukan seperti itu.
Hari ini aku pergi ke tempat kerjaku (yg nyebelin itu), bawa buku yang asal kucomot aja dari rak buku. Daripada aku ngeliat orang-orang kejam itu, mending baca buku aja. Ini buku udah lama kubeli, perasaan aku udah pernah baca sampe abis, tapi kok gak inget isinya tentang apa aja. Pas aku buka di halaman yang kutandain pake stabilo, isinya nasihat seorang ibu ke anaknya..
"Dear, I want to tell you something.. (lanjutnya ku translate yah..) Dunia tempat kamu tinggal sekarang ini kadang bisa menjadi tempat yang keras. Dan orang-orang di sekelilingmu bahkan bisa lebih keras lagi. Karena berbagai alasan, orang akan menyakiti, menolak, mengecewakan dan memperlakukanmu dengan kejam. Beberapa melakukannya tanpa sengaja, yang lain akan melakukannya dengan sengaja. Yang paling baik kau lakukan adalah bertahan, dengan tidak pernah melupakan betapa istimewanya dirimu, dan tak perlu membuang waktu untuk meyakinkan orang lain agar percaya atau mengikuti caramu berperilaku. Kalau kau selalu ingat 'Bermainlah hanya untuk penonton yang bersorak untukmu', hidupmu akan jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan."
Bacaan ini, masuk banget di pikiranku n terbukti bisa bikin aku nggak merasa down lagi. Jadi, kita anggap hidup kita ini adalah film or pertunjukan yang kita produksi. Kita berlaku sebagai produser, sutradara, aktor utama, pemilih pemain dan sekaligus penjual tiket (hehee... serabutan banget yaa). Kita selalu bisa memilih siapa yang layak menikmati pertunjukan kita. Aku ngebayangin, orang-orang yang sengak itu nggak layak untuk menikmati pertunjukanku. Aku 'ignore', aku 'delete', and aku 'block' mereka. Aku cuma bermain untuk mereka yang aku pilih sebagai penontonku. Aku pasang muka baik dan berbicara baik hanya buat orang yang layak dibaikin.
Anehnya, orang-orang (sengak) itu justru jadi balik ngebaik-baikin aku setelah aku pasang tampang meng'ignore', 'delete' and 'block' mereka. Berarti kadang orang yang berlaku nyebelin itu cuma bluffing aja ya..? Dan apakah kalo mereka udah baik-baikin aku, berarti aku harus membuka hati, memaafkan, dan baikin mereka lagi..? Emmmm... seharusnya sih gitu.... Tapiii... hatiku belum semulia itu, tetep aja mereka aku jutekin... Emang enak...?
baca lanjutannya yuuk..