QODARAN

0

Kisah yang sungguh INDAH...

QODARAN
(gaji tigabelasan)

Saya tak hendak menyoal gaji 13 ataupun 14, karena perkara gaji hanya dimiliki yang punya lisensi gaji.
Orang orang yang bekerja pada instansi ataupun orang lain.
Sementara yang 'merasa' tidak memiliki gaji 13 dan 14, adalah mereka yang bekerja untuk diri mereka sendiri.
Gaji mereka tak ada watesan 13, 14, 15.... tapi belas tanpa selesai.
Bonus atas segala usaha mandiri yang kemudian diapresiasi oleh hasil......
Kepuasan tanpa tanding.
…………………..
Jadi sesungguhnya nilai gaji yang terakhir inilah yang tak berbilang nominalnya.
Nilai sehat dan semangat..
Nilai kreasi dan inovasi yang tiada henti..
Nilai syukur yang terus subur..
Nilai berserah tanpa lelah..
Nilai usaha yang terus membara..
…………………..
'Wah… pisangipun sae-sae Mbah…' kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan depan pasar..'
'Mangga, Bu… ditumbasi Mbahe…' tawar perempuan itu riang.
Sungguh sudah sangat sepuh. Rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya. Tapi suaranya cemengkling riang, giginya terlihat masih utuh.
'Niki kepok kuning… sae nek dikolak.
Niki kepok putih… nek digoreng saklangkung manis'
Lha nek niki… gedhang pista, kulit tipis…arum manis.
Ning ampun dipundhut sik… soale dereng mateng…'
Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan tapi telah dredeg dredeg gemetar.
'Sampun dangu sadeyan, Mbah…?'
'Dereng…. niki rak nyrempeng pados rejeki ngge lebaran?'
'Putra pinten Mbah?'
'Kathah , Bu… pun sami glidik/kerja…'
'Kok mboten rehat mawon to Mbah… siam-siam kok dodolan'
'Lha margi siam niku to Bu, mboten pareng rehat…
Mumpung Gusti Allah paring sihat…'
...........................
Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu.
Kulihat tangannya ngelap kening dan dahinya yang dleweran keringat dengan selendang lusuhnya.
Diantara para penjual 'liar' dipinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu diantaranya yang menggelar dagangan tanpa iyup iyup.
Padahal hari itu panas luar biasa.
……………………
'Nek kundur jam pinten Mbah?'
'Jam tiga pun wangsul Bu… lha enten kewajiban nyiapke wedang kangge lare lare TPA'
'Kok kewajiban, sing wajibaken sinten Mbah?'
'Nggih kula piyambak, Bu…'
'Ooo… ngaten…. saben dinten, selama puasa?'
"Inggih… wong naming cah seketan..'
'Wah panjenengan hebat nggih Mbah…'
'Halah mung wedang kalih panganan cilik-cilikkan..'
'Sing penting bocah-bocah sregep ngaji…pun seneng kula.
Ampun bodho kaya Mbahe niki… kula isane mung Patikah…'
…………………
Aku makin tercekat.
Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.
'Kok kathah sanget Bu… badhe kagem napa?' tanyanya heran.
Aku hanya tersenyum.
'Sedaya pinten Mbah?'
Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.
'Kok murah sanget Mbah…'
'Mboten… pun pas niku, niki rak mboten pisang kulakan, panen piyambak...'
'Nggih…matur nuwun…' kataku sembari mengulurkan uang..
'Aduh… mboten enten susukke Bu, dereng kepayon…'
'Kula tukerke rumiyin nggih Mbah…'
Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu.
Pisang telah kuletakkan di motor.
Mesin motor pun kunyalakan.
Agak menjauh dari perempuan sepuh itu...
Kumasukkan beberapa lembar uang lima ribuan yang masih baru, ke dalam amplop,
Cukup dibagi satu satu untuk anak TPA
yang katanya cah seketan tadi.
Penutup lem ampop kubuka lalu kurapatkan.
'Niki mbah, pun kula tukeraken… artane pun pas nggih…'
Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan dredeg gemetar.
Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.
……………….
Esoknya aku mampir lagi… tapi kosong
Berikutnya aku mampir lagi… kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada ibu pedangang sebelahnya.
'Mbahe mboten sadean Mbak?,
'Oh mboten… sadean nek namung panen pisang, Bu…?'
'Sampean to ingkang maringi amplop rumiyin…
Walah Mbahe nangis ngguguk Bu… jare bejo, angsal angsale qodaran..'
………………..
Qodaran barangkali yang dimaksudkan adalah lailatul qodar.
Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan.
Para malaikat turun dari langit,
Langit hati kita.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki,
Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula.
Rejeki sesuai kapasitas kita.
Lantas siapakah yang mendapatkannya??
………………..
Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya.
Bukan karena ia ahli ibadah
Bukan pula karena I'tikafnya yang kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya 'hanya' bisa Patikah itu.
Kesungguhan I'tikaf yang luar biasa.
Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
I'tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.
Bukan masjid yang sekadar bangunan ibadah.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan panganan bagi seketan bocah selama puasa,
sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.
……………..
Aku jadi teringat pertanyaan teman,
tentang pencapaian lailatul qodar.
Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil?
Maka… malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan.
Tak bisa dijujug dengan akhiran.
Semua butuh proses…. karena karunia terindah butuh wadah.
Yang dibangun dengan menapis kebaikan sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.
Itulah sesungguhnya Qodaran…
Bonus tak berbatas yang melebihi gaji ketigabelas.

Story from friend's timeline.

Sent from my ASUS

Daftar 30 Produk Kosmetika Mengandung Bahan Berbahaya (BPOM 2015)

5
30 November 2015, BPOM mengeluarkan 'public warning', Daftar Temuan Kosmetika Mengandung Bahan Berbahaya yang beredar dari Oktober 2014 sampai September 2015. Ditemukan 30 jenis kosmetika mengandung bahan berbahaya yang terdiri dari 13 jenis kosmetika produksi luar negeri dan 17 jenis kosmetika produksi dalam negeri.

Please be careful dalam memilih dan membeli kosmetik ya...

Ini linknya :

Ini lampirannya :








Semoga bermanfaat... :)


Launching Produk Hello Green Indonesia Natural Handmade Soap

2






Alhamdulillahi robbil alamin..
23 Januari 2016 kemarin, Hello Green Indonesia, bisnis handmade soap punya adekku untuk pertama kalinya dijual publicly.

Sebelumnya, produk sabun handmade ini hanya diketahui di kalangan elite seputaran ring 1 nya adekku aja (ciee..), alias sodara2, temen2, sodaranya temen2, temen2nya sodara deelel.. ◦Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴͡°˚...hihihi...˚° Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴͡°

Sekarang penjualannya udah Go Public :D, launchingnya kemarin di Nox Coffe Boutique, Natasha Building, Jl. Kaliurang Yogyakarta.

Nggak gampang utk bisa menjual atau memperkenalkan produk di tempat ini, terutama di acara Simply Organic spt kemarin, karena sesuai aturan dari Natasha Skin Care nya, semua yg ada di event Simply Organic tsb harus produk yg benar2 terbuat dr bahan2 natural organik.

Semua sabun produksi Hello Green Indonesia dibuat dari bahan2 natural berkualitas, dan tentunya aman dan sehat utk kulit kita.

Selain mengutamakan manfaat dari sabun natural yang diproduksinya, tampilan yang cantik dan aroma yang soft, serta busanya yang creamy dan lembut menjadi ciri khas dari Hello Geen Indonesia.

Buat yg pengen kulitnya halus lembab dan sehat, mungkin sdh waktunya mempertimbangkan utk mengganti sabun komersial yg biasa kamu pakai dengan sabun natural handmade dari @hellogreenindonesia

Follow instagram dan blognya yaa..
Instagram: @hellogreenindonesia
Blog: http://hellogreenindonesia.blogspot.co.id

Banyak varian sabun natural di IG nya, termasuk keterangan ingredient dan manfaat dari masing2 sabun.

Yang udah liat2 n pilih2, langsung aja pesan ke adekku yaa..

Contact Person: Vitri Anindito
WA/SMS: 0821-3652-6777
WA/SMS: 0896-8220-6330
Line: hellogreenindonesia
Email: hellogreenindonesia@gmail.com


Sent from my ASUS

Menjauhlah dari Sang Pengeluh

8

Pernah ketemu orang yang hobbynya mengeluh..? Ada lho orang yang sengaja atau tidak, membuat kegiatan mengeluh adalah hobbynya.. Dia memandang semua yang terjadi dalam dirinya adalah suatu kesialan yang tidak seharusnya dia alami.. Biasanya kemudian dia mencari orang lain untuk dia salahkan atas kondisi yang ada.. Atau menyalahkan kondisi yang menurutnya tidak bersahabat dengan dia..

Saat kita bertemu dengan orang seperti itu, mendengarkan keluh kesahnya, merasakan kemarahannya, melihat airmatanya, untuk satu-dua kali mungkin kita bisa tidak terpengaruh dan masih bisa menasehati dan membesarkan hatinya..

Tapi ingat, pengungkapan keluhan, apabila itu sudah menjadi hobby, habit, atau kebiasaan seseorang, seperti yg aku tulis di atas, pasti akan berulang dia ungkapkan.. Entah itu kepada 1 orang tertentu secara berulang2, ataupun randomly kepada siapapun yang dia temui..

Bayangkan bila kita harus berulang2, setiap hari mendengarkan hal negatif yang seseorang keluhkan.. Yang awalnya kita berlaku sebagai seseorang yang berempati dan membesarkan hatinya, akhirnya bukan tidak mungkin kita akan terseret dalam keluh kesahnya.. Yang tadinya kita rajin bersyukur atas segala nikmat kehidupan yang kita miliki, akhirnya mulai meragukan dan membandingkan/menyamakan keadaan kita dengan Sang Pengeluh tadi..

"Iya, sebenernya keadaan gue juga ampir sama sih kaya elu. Kadang gue juga.. bla..bla..bla.."

Duaarrr!!! Saat dimana kata2 seperti itu keluar dari mulut kita, disitulah kita sudah kalah..

Kata2 negatif itu 1000 kali lebih mudah masuk ke pikiran/hati dibandingkan kata2 positif..

Jadi harus gimana kalau ketemu orang yang maunya curhat negatif atau mengeluh terus ke kita..? Sekali sekali bolehlah kita jadi pendengar.. Tapi kalau sudah terlalu sering, akan tidak sehat buat hati dan pikiran kita..
Harus bisa menolak.. Harus bisa bilang tidak mau.. (Say sorry first ýαα... )

Dia senang kita bisa jadi tempatnya membuang segala uneg2 negatifnya.. Kitanya..? 😥😥😥
Tempat orang membuang segala sesuatu itu namanya tempat sampah.. Mau jadi tempat sampah..? Hehe, aku sih nggak mau..


Sent from my ASUS

Berbaik Sangkalah Saudaraku...

15

Kita tidak bisa membaca hati manusia, apalagi hanya dari dunia maya.
Belum tentu orang yang menuliskan rutinitas amalnya adalah riya’. Bisa jadi ia berniat menyemangati kawannya.
Belum tentu orang yang mengabarkan rizqi yang diterimanya adalah berbangga-banggaan dengan harta. Bisa jadi, ia ingin menyiarkan syukur atas karunia-Nya.

Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.

Mereka yang menuliskan pengalamannya di sosial media, belum tentu ingin menjadi selebritis dunia maya. Bisa jadi ada inspirasi yang hendak dibagikannya.
Mereka yang mengabarkan sedang mengisi kultum entah di mana, belum tentu ingin dipuji amal dakwahnya. Bisa jadi ia ingin memberi harapan pada rekannya, bahwa di sana dakwah masih menyala.

Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.

Mereka yang menyampaikan secuplik ilmu yang diketahuinya, belum tentu ingin diakui banyak ilmunya. Bisa jadi ia terpanggil untuk menyampaikan sedikit yang ia punya.
Mereka yang gemar mengkritisi kekeliruan yang dilihatnya, belum tentu merasa dirinya paling benar sedunia. Bisa jadi, itu karena ia sungguh mencintai saudaranya.

Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.

Mereka yang gemar menuliskan apapun yang dipikirkannya, belum tentu ingin diakui sebagai perenung berwibawa. Bisa jadi, ia adalah pelupa, dan mudah ingat dengan membagikannya.

Mereka yang selalu merespon apa yang dilihatnya, belum tentu ingin eksis di dunia maya. Bisa jadi ia memang senang berbagi yang dia punya.

Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.

Tapi baik sangka, tak berarti membiarkan kawan-kawan melakukan sesuatu yang nampak keliru di mata kita.
Baik sangka, harus disertai dengan saling mengingatkan agar tidak tergelincir niatnya, agar tidak terhapus pahala amalnya.

Isi hati adalah misteri. Namun apa yang nampak keliru di mata kita, di situlah tugas kita untuk meluruskannya.

Baik sangka itu menentramkan. Namun, saling mengingatkan juga merupakan kebutuhan.
Baik sangka itu indah, tapi bukan berarti membiarkan saudara terlihat salah.
Baik sangka, dan nasihat-menasihati adalah kewajiban sesama muslim.
Semoga kita bisa senantiasa belajar bersama.
Selamat berbaik sangka 

ust. Muhammad Harry Naldi