Monday, July 4, 2016

QODARAN

BY tyas indree IN , No comments

Kisah yang sungguh INDAH...

QODARAN
(gaji tigabelasan)

Saya tak hendak menyoal gaji 13 ataupun 14, karena perkara gaji hanya dimiliki yang punya lisensi gaji.
Orang orang yang bekerja pada instansi ataupun orang lain.
Sementara yang 'merasa' tidak memiliki gaji 13 dan 14, adalah mereka yang bekerja untuk diri mereka sendiri.
Gaji mereka tak ada watesan 13, 14, 15.... tapi belas tanpa selesai.
Bonus atas segala usaha mandiri yang kemudian diapresiasi oleh hasil......
Kepuasan tanpa tanding.
…………………..
Jadi sesungguhnya nilai gaji yang terakhir inilah yang tak berbilang nominalnya.
Nilai sehat dan semangat..
Nilai kreasi dan inovasi yang tiada henti..
Nilai syukur yang terus subur..
Nilai berserah tanpa lelah..
Nilai usaha yang terus membara..
…………………..
'Wah… pisangipun sae-sae Mbah…' kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan depan pasar..'
'Mangga, Bu… ditumbasi Mbahe…' tawar perempuan itu riang.
Sungguh sudah sangat sepuh. Rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya. Tapi suaranya cemengkling riang, giginya terlihat masih utuh.
'Niki kepok kuning… sae nek dikolak.
Niki kepok putih… nek digoreng saklangkung manis'
Lha nek niki… gedhang pista, kulit tipis…arum manis.
Ning ampun dipundhut sik… soale dereng mateng…'
Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan tapi telah dredeg dredeg gemetar.
'Sampun dangu sadeyan, Mbah…?'
'Dereng…. niki rak nyrempeng pados rejeki ngge lebaran?'
'Putra pinten Mbah?'
'Kathah , Bu… pun sami glidik/kerja…'
'Kok mboten rehat mawon to Mbah… siam-siam kok dodolan'
'Lha margi siam niku to Bu, mboten pareng rehat…
Mumpung Gusti Allah paring sihat…'
...........................
Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu.
Kulihat tangannya ngelap kening dan dahinya yang dleweran keringat dengan selendang lusuhnya.
Diantara para penjual 'liar' dipinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu diantaranya yang menggelar dagangan tanpa iyup iyup.
Padahal hari itu panas luar biasa.
……………………
'Nek kundur jam pinten Mbah?'
'Jam tiga pun wangsul Bu… lha enten kewajiban nyiapke wedang kangge lare lare TPA'
'Kok kewajiban, sing wajibaken sinten Mbah?'
'Nggih kula piyambak, Bu…'
'Ooo… ngaten…. saben dinten, selama puasa?'
"Inggih… wong naming cah seketan..'
'Wah panjenengan hebat nggih Mbah…'
'Halah mung wedang kalih panganan cilik-cilikkan..'
'Sing penting bocah-bocah sregep ngaji…pun seneng kula.
Ampun bodho kaya Mbahe niki… kula isane mung Patikah…'
…………………
Aku makin tercekat.
Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.
'Kok kathah sanget Bu… badhe kagem napa?' tanyanya heran.
Aku hanya tersenyum.
'Sedaya pinten Mbah?'
Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.
'Kok murah sanget Mbah…'
'Mboten… pun pas niku, niki rak mboten pisang kulakan, panen piyambak...'
'Nggih…matur nuwun…' kataku sembari mengulurkan uang..
'Aduh… mboten enten susukke Bu, dereng kepayon…'
'Kula tukerke rumiyin nggih Mbah…'
Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu.
Pisang telah kuletakkan di motor.
Mesin motor pun kunyalakan.
Agak menjauh dari perempuan sepuh itu...
Kumasukkan beberapa lembar uang lima ribuan yang masih baru, ke dalam amplop,
Cukup dibagi satu satu untuk anak TPA
yang katanya cah seketan tadi.
Penutup lem ampop kubuka lalu kurapatkan.
'Niki mbah, pun kula tukeraken… artane pun pas nggih…'
Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan dredeg gemetar.
Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.
……………….
Esoknya aku mampir lagi… tapi kosong
Berikutnya aku mampir lagi… kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada ibu pedangang sebelahnya.
'Mbahe mboten sadean Mbak?,
'Oh mboten… sadean nek namung panen pisang, Bu…?'
'Sampean to ingkang maringi amplop rumiyin…
Walah Mbahe nangis ngguguk Bu… jare bejo, angsal angsale qodaran..'
………………..
Qodaran barangkali yang dimaksudkan adalah lailatul qodar.
Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan.
Para malaikat turun dari langit,
Langit hati kita.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki,
Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula.
Rejeki sesuai kapasitas kita.
Lantas siapakah yang mendapatkannya??
………………..
Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya.
Bukan karena ia ahli ibadah
Bukan pula karena I'tikafnya yang kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya 'hanya' bisa Patikah itu.
Kesungguhan I'tikaf yang luar biasa.
Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
I'tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.
Bukan masjid yang sekadar bangunan ibadah.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan panganan bagi seketan bocah selama puasa,
sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.
……………..
Aku jadi teringat pertanyaan teman,
tentang pencapaian lailatul qodar.
Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil?
Maka… malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan.
Tak bisa dijujug dengan akhiran.
Semua butuh proses…. karena karunia terindah butuh wadah.
Yang dibangun dengan menapis kebaikan sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.
Itulah sesungguhnya Qodaran…
Bonus tak berbatas yang melebihi gaji ketigabelas.

Story from friend's timeline.

Sent from my ASUS

0 comments:

Post a Comment

i hate spammers....