Sunday, August 30, 2009

Waspadai Konsumsi Makanan Instan

BY tyasjetra IN , , 51 comments

Meskipun banyak produsen makanan instan mengklaim produknya dilengkapi tambahan berbagai kandungan vitamin, sebaiknya makanan itu tak dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Menurut dr Endang Darmo Utomo, MS, SpGK, clinical nutritionist dari Siloam Hospital Karawaci, kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan gencarnya iklan dan informasi dari produsen makanan instan. Orangtua juga tak bisa menghakimi makanan instan itu selalu buruk bagi anak.

“Hanya karena kita mendengar satu kasus, bukan berarti makanan instan itu buruk untuk dikonsumsi. Tapi, sebaiknya direncanakan saja, berapa lama tenggang waktu mengonsumsinya, dan bagaimana menyiasatinya agar lebih bermanfaat buat anak,” papar Endang.

Penghakiman terhadap bahaya makanan instan yang berlebihan tak akan membuat anak-anak memahami seperti apa makanan sehat yang sebenarnya. Akan tetapi, bila disiasati dengan tepat, sebenarnya makanan instan juga bisa bermanfaat.

Tinggi kalori, kurang serat
Menurut Endang, yang paling dikhawatirkan dari makanan instan bukanlah unsur pengawet atau penyedapnya, melainkan kandungan kalorinya yang tinggi. “Pada prinsipnya makanan instan, kan, makanan yang sudah melalui proses berulang. Proses ini menyebabkan kandungan gula sederhana pada makanan instan mudah terserap tubuh.”

Padahal, ketika mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti kebanyakan makanan instan, menyebabkan rasa candu. Rasa ini didapat dari perasaan nikmat akibat gula darah yang lekas naik. Kemudian ada efek craving (perasaan ingin selalu ngemil), begitu gula darah turun cepat.

Selain indeks glikemik yang tinggi, makanan instan yang diolah berulang ini sudah pasti kurang mengandung serat. Padahal, pada kondisi normal, serat amat dibutuhkan untuk menjaga siklus buang air besar (BAB) secara teratur dan mengimbangi intake kalori yang terlalu banyak. “Pada dasarnya serat dibutuhkan untuk mengurangi penyerapan makanan yang diasup. Kalau seratnya tidak ada, akibatnya makanan cepat terserap,” ungkap Endang.

Kurangnya serat pada makanan instan ini juga kerap dituding sebagai penyebab anak sulit BAB. “Prinsip kerja organ pencernaan, terutama usus, membutuhkan sesuatu yang membuatnya berkontraksi dan melakukan gerakan peristaltik!” terang Endang.

Bila dibiarkan dengan pola makan yang tinggi kalori dan kurang serat terus menerus, anak akan menjadi gemuk. Apalagi makanan dengan indeks glikemik tinggi memicu produksi insulin terus menerus. Lama-lama risiko diabetes pada anak akan meningkat.

Tak perlu dilarang
Lantas bagaimana bila anak sudah terlanjur menyukai makanan instan? Saran Endang, jangan langsung semena-mena melarang anak mengonsumsinya. Sebaiknya, cukup jadualkan saja kapan anak bisa mengonsumsi makanan tadi, misalnya seminggu sekali, 2-3 minggu sekali, atau sebulan sekali. Kemudian, lakukan trik agar sajian makanan instan juga tak merugikan kesehatan anak. Berikut kiatnya.

  • Kurangi minyak dan bumbu. Makanan instan memiliki rasa yang akan disukai anak-anak. Mi, misalnya. Tekstur mi yang tak terlalu lembek dan berbentuk keriting tampak lebih menarik ketimbang nasi tim yang basah. Berkreasilah dengan mencoba membuat bumbu sendiri. Siapa tahu si kecil malah doyan bumbu mi instan buatan Anda.
  • Sertakan sayuran. Agar tetap mengenal sayuran, setiap kali makan makanan instan usahakan disertai sayuran. Pilih sayuran yang tak terasa pahit atau berbau, agar tak menimbulkan efek jera pada anak.
  • Masak segera. Mengolah masakan instan sebaiknya dilakukan sesuai petunjuk penggunaan, karena produsen sudah memperkirakan tekstur yang akan didapat dengan cara itu.
  • Tegakkan aturan. Meski anak mengonsumsi makanan instan, bukan berarti ia lepas dari pendidikan makan sehat. Tetap tegakkan aturan untuk makan dulu menu sayurannya sebelum makanan instannya. Serat yang lebih dulu masuk akan memperlancar pencernaan sehingga terhindar dari konstipasi.

Sumber: Laili Damayanti/Nova

Sunday, August 2, 2009

5 Hal "Egois" yang Perlu Dilakukan

BY tyasjetra IN , 85 comments

Wanita dituntut untuk mampu melakukan tugas sebagai ibu, istri, dan pegawai. Padahal, sekalipun kita mampu ber-multitasking, tidak berarti kita tidak bisa menjadi lelah. Kelelahan fisik dan mental dapat membuat kita menjadi stres, dan akibatnya kita tidak dapat bekerja dengan maksimal, baik untuk perusahaan maupun untuk keluarga. Karena itu, jika kita benar-benar ingin berguna bagi orang lain, kita perlu belajar untuk menjadi lebih egois terhadap diri sendiri. Bagaimana caranya? Simak lima hal yang membuktikan, bahwa bersikap egois sebenarnya dapat membantu orang lain.

1. Tidur cukup
Wanita yang memiliki bayi atau anak batita, umumnya mengeluh kekurangan tidur. Padahal, tidur merupakan salah satu hal terpenting yang dapat kita lakukan untuk diri kita, karena inilah cara tubuh me-recharge energi. Hampir semua masalah kesehatan juga timbul akibat kita tidak mendapatkan kemewahan untuk tidur cukup ini. Jika Anda memenuhi kebutuhan untuk beristirahat, Anda memiliki energi lebih besar dan lebih efisien dalam mengerjakan tugas-tugas sepanjang hari. Hal ini akan membantu keluarga, suami, dan rekan kerja, karena Anda menjadi produktif. Anda juga lebih sehat karena tak mengidap penyakit yang disebabkan oleh stres.

Jika Anda memiliki bayi, atur jadual yang ketat untuk Anda juga. Temani anak yang lebih besar untuk tidur pada waktunya, dan sampaikan bahwa Anda pun butuh tidur. Katakan juga pada teman-teman atau keluarga yang lain, apabila tenaga Anda diperlukan, Anda akan siap pada jam tertentu (setelah Anda beristirahat).

2. Menolak pekerjaan tambahan
Wanita cenderung ingin menyenangkan siapa pun yang ada di sekitarnya, termasuk atasan. Karena itu, mereka sulit menolak tugas-tugas tambahan atau proyek yang diberikan. Padahal, kebanyakan bos memilih menugaskan wanita tak lain karena wanita selalu menerima pekerjaan tanpa protes sedikit pun. Boleh-boleh saja sih, bersikap sebagai karyawan yang baik, dan bersedia melakukan tugas tambahan. Namun Anda perlu tahu kapan harus menolak pekerjaan.

Ketika Anda bekerja lembur tanpa insentif tambahan hampir secara rutin, hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang diharapkan dari Anda, hal ini sudah tidak wajar lagi. Semua pekerjaan tentu membutuhkan pengorbanan tertentu agar bisa selesai pada waktunya, khususnya ketika pekerjaan Anda memiliki tenggat waktu. Namun Anda tidak seharusnya bekerja lembur sepanjang waktu. Ketika Anda terlalu banyak bekerja, Anda sebenarnya menjadi kurang produktif, dan kualitas kerja Anda pun menurun. Ketika atasan bertanya apakah Anda memiliki waktu untuk menyelesaikan sebuah tugas, ada kemungkinan ia hanya menguji Anda. Jadi jangan takut mengatakan bahwa Anda tidak dapat bekerja dengan maksimal jika kondisi Anda sudah lelah. Jangan takut pula untuk meminta bantuan jika memungkinkan.

3. Mencari waktu untuk diri sendiri
Pernahkah Anda merasa begitu bahagia dan produktif setelah melakukan sesuatu yang kita sukai? Hal ini jarang kita lakukan, namun penting dilakukan untuk menyeimbangkan hidup. Wanita sering berpikir bahwa mereka mementingkan diri sendiri jika mencari waktu untuk membaca, menonton film, melakukan hobi, atau memulai bisnis. Kita mungkin belum mengetahui bahwa mengeksplorasi minat atau keinginan tersebut dapat menjadi cara untuk melepaskan stres, dan akan menjadi ibu, istri, dan teman yang lebih baik karenanya.

4. Kesehatan, gizi, dan kebugaran
Sama halnya dengan tidur, menjadi sehat dapat menambah usia kita. Hal ini juga akan mencegah Anda menjadi beban bagi anak ketika Anda beranjak tua. Jadi, bukankah ini justru merupakan hal paling tidak mementingkan diri? Karena itu, ambil waktu untuk makan sehat, berolahraga, dan berkonsultasi dengan dokter. Ketiga hal ini akan membutuhkan waktu, namun hasilnya dapat dilihat dalam jangka waktu lama. Kebanyakan masalah kesehatan juga lebih mudah diatasi ketika masih dalam tahap awal, jadi jangan menunda-nunda lagi sampai masalah ini menjadi besar.

5. Berkata "tidak" di rumah
Saat pulang ke rumah, Anda mungkin akan mendapati rumah dalam keadaan berantakan. Piring bekas makan masih berserakan di dapur, padahal si sulung yang sudah di SMP seharusnya sudah cukup dewasa untuk diajak terlibat dalam menjalankan kehidupan di rumah. Jangan hanya merasa kesal dan tak sabar, lalu membereskan semua hal itu sambil menggerutu. Jangan takut untuk menugaskan anak, atau suami, untuk membereskan pekerjaan rumah tangga. Namun tak perlu menyampaikannya sambil marah-marah. Bila di rumah tak ada pembantu, ajarkan pada anggota keluarga untuk mencuci piring bekas makannya sendiri, mencuci pakaiannya sendiri, atau menyapu kamarnya sendiri. Jika Anda juga bekerja, Anda tidak bertanggung jawab untuk menyelesaikan semua pekerjaan di rumah. Kalau anak sudah mencuci pakaiannya atau piringnya sendiri, Anda tidak akan terlalu lelah untuk menemaninya belajar, bukan?

Sumber: kompas.com