Tuesday, May 19, 2009

Sang Pianis

BY tyasjetra IN , 67 comments

Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle twinkle little star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita ? Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Tuhan ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Tuhan di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Tuhan ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita. Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Tuhan di samping kita.

Tuesday, May 12, 2009

Ngerem Nafsu Belanja

BY tyasjetra IN , 57 comments

Sudah bukan hal yang aneh bila wanita dikenal dengan kebiasaan impulsive buying-nya, dimana ia akan berbelanja bukan karena kebutuhan, melainkan keinginan. Dan, hal tersebut dilakukan tanpa perencanaan. Ketika sedang lewat toko sepatu, dan melihat sepatu yang lucu, mendadak saja kita masuk, mencobanya, lalu keluar sambil menenteng kantong belanjaan.

Menurut Tahira K. Hira, seorang profesor ilmu keluarga dan konsumen dari Iowa State University, impulsive buyer biasanya kurang memiliki kontrol diri dalam melihat barang-barang yang bagus, dan kurang memiliki prioritas yang jelas dalam berbelanja. Kebanyakan dari mereka memiliki sindrom “Saya menginginkan barang itu sekarang”, yang membuatnya tak mampu menunda keinginan berbelanja, membeli barang-barang melebihi pendapatannya, mengakibatkan hutang tambahan yang tidak perlu, dan berbagai pertengkaran dalam keluarga.

Anda bisa mengetahui apakah Anda termasuk impulsive spender dengan melihat gejalanya di bawah ini:
  1. Berbelanja sebagai pelampiasan perasaan kecewa atau depresi.
  2. Memiliki masalah pribadi dan keluarga akibat cara berbelanja yang berlebihan.
  3. Sering bertengkar dengan orang lain karena kebiasaan belanjanya.
  4. Merasa tidak lengkap iika tidak membawa kartu kredit.
  5. Membeli barang-barang secara kredit jika tidak mampu membeli secara tunai.
  6. Sadar bahwa menghabiskan uang dirasakan sebagai perbuatan yang ceroboh dan dilarang.
  7. Merasa bersalah, malu, atau kebingungan setelah berbelanja.
  8. Berbohong kepada yang lain, khususnya pasangan, tentang apa yang dibeli dan berapa banyak uang yang sudah dibelanjakan.
  9. Sering mencari akal-akalan antara tabungan dan tagihan untuk memenuhi keinginan berbelanja.
  10. Merasa tidak berdaya untuk mengatasi dorongan untuk berbelanja.

Bila Anda mengalami beberapa poin saja dari ke-10 hal di atas, sebaiknya Anda mulai berhati-hati, agar kebiasaan ini tidak berlarut-larut dan sulit “disembuhkan”. Yang paling baik adalah jika Anda menyadari kebiasaan buruk ini, dan bersedia berusaha menghentikannya.

Tips mengerem nafsu belanja:
  1. Jika Anda merasakan dorongan yang kuat untuk membeli sebuah barang yang tidak masuk dalam daftar belanja Anda, segera tinggalkan toko tersebut.
  2. Anda sudah mencoba-coba sebuah atasan yang bagus sekali, dan menyerahkannya kepada kasir? Segeralah beringsut keluar dari toko tanpa menebus barang tersebut.
  3. Ambillah uang secukupnya untuk hidup Anda selama seminggu, lalu tinggalkan kartu ATM dan kartu kredit di rumah. Bila perlu, titipkan saja kartu-kartu ”sakti” Anda kepada suami.
  4. Hindari pergi ke mal, bahkan minimarket, jika Anda memang tidak berniat untuk membeli sesuatu barang.
  5. Jika Anda sedang stres, jangan mencari pelampiasan dengan mengunjungi mal. Pergi saja ke tempat pijat atau spa, yang tidak terletak di dalam mal. Dengan demikian, Anda akan merasakan rileks tanpa harus menemukan sesuatu untuk dibeli.
  6. Cari teman dekat yang mampu memperingatkan Anda untuk tidak menuruti keinginan untuk membeli barang setiap kali pergi ke mal.
Sumber: Kompas.com

Thursday, May 7, 2009

Hambatan dalam Karier Perempuan

BY tyasjetra IN , , 28 comments

Emansipasi perempuan dalam dunia kerja boleh saja semakin terbuka. Namun, kaum pekerja perempuan nyatanya masih memiliki hambatan dalam mencapai posisi puncak dalam kariernya.

Catalyst, sebuah organisasi nonprofit yang berfokus pada penelitian dan konsultasi terhadap perempuan di dunia kerja, pernah merilis sebuah laporan yang berisi faktor-faktor yang menghambat dan mendukung karier perempuan di dunia kerja.

Penelitian ini lantas diperbaharui lagi untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi pada para perempuan di dunia kerja. Hasilnya, terjadi banyak perubahan yang cukup signifikan dalam perilaku dan pikiran perempuan di dunia kerja, khususnya di Amerika Serikat.

Dilaporkan, para perempuan tersebut puas dengan jabatan, anak buah, fasilitas, dan segala aspek dalam kerja mereka. Sebanyak 73 persen responden juga menyatakan puas dan nyaman dengan pilihan yang mereka buat antara karier dan kehidupan pribadi mereka.

Walaupun begitu, para perempuan masih mengalami kendala dalam lingkungan kerja mereka. Hanya satu dari empat perempuan yang puas dengan atasan atau pengawas mereka di perusahaan. Sebesar 43 persen responden juga tidak puas dengan kesempatan yang diberikan perusahaan untuk kemajuan karier mereka. Responden juga sepakat bahwa hambatan paling utama dari karier perempuan di tempat kerja adalah minimnya pengalaman yang dimiliki dalam bidang manajemen atau general manajer.

"Perempuan belum bisa sukses karena mereka tidak diberi kesempatan untuk merasakan menjalankan bisnis," kata Presiden Catalyst Illene H Lang.

Apa yang membuat perempuan terhambat dalam kariernya? Hasil penelitian tersebut memberikan hasil sebagai berikut, seperti dikutip dari womensmedia.com.

  • Sekitar 47 persen responden menyatakan tidak adanya pengalaman dalam bidang general manajemen.
  • Sebanyak 41 persen merasa dikucilkan dari pergaulan atau jaringan informal.
  • Sebesar 33 persen merasa ada stereotip yang masih kental tentang peran dan kemampuan perempuan di dunia kerja.
  • Sebesar 29 persen merasa adanya kegagalan dari atasan untuk menganalisis kemampuan dan kemajuan yang dihasilkan pekerja perempuan.
  • Sebesar 26 persen menyatakan adanya komitmen terhadap keluarga yang harus didahulukan.
Sangat penting untuk mengenali bahwa hambatan-hambatan ini saling berkaitan. Misalnya, jika pekerja perempuan tersingkir dari pergaulan kerja, maka saat mereka harus mengerjakan sebuah tugas atau kepentingan yang penting, maka hasilnya tidak disenangi atau atau kurang sesuai dengan situasi kerja. Hal ini tentu saja berdampak kembali pada streotip pekerja perempuan yang dianggap tidak mampu memimpin.

Dari studi yang dilakukan, para responden perempuan juga masih menginginkan mendapatkan posisi puncak di perusahaan. Berbanding lurus dengan hal ini, para CEO juga menganggap bahwa pekerja perempuan punya keinginan sekaligus kemampuan untuk meraih jabatan yang lebih tinggi. Hanya 13 persen dari para CEO ini menyatakan bahwa perempuan tidak punya kemampuan untuk naik menjadi pekerja senior.

Jika begitu, apa yang harus dilakukan para pekerja perempuan? Catalyst memberikan beberapa strategi agar perempuan mampu sampai di posisi yang diinginkannya.
  1. Bekerja lebih keras, dan tunjukkan bahwa pekerja perempuan bisa memberikan hasil melebihi target atau melebihi harapan atasan.
  2. Lakukan kegiatan manajemen dengan lebih teliti dan profesional. Caranya, lakukan gaya pendekatan yang membuat semua pekerja, terutama pekerja laki-laki merasa nyaman dan tidak merasa terintimidasi.
  3. Mintalah untuk mengerjakan tugas yang sulit dan tunjukkan bahwa pekerja perempuan sanggup melakukan dan memberikan hasil yang terbaik. Terakhir, belajarlah pada ahlinya agar bisa mencuri sebanyak mungkin ilmu darinya.
Lantas apa yang harus dilakukan mereka yang bekerja dengan pekerja perempuan? Catalyst menyarankan agar para atasan bisa menjadi panutan yang baik bagi pekerja perempuan. Lakukan aksi, bukan hanya lip service belaka.

Hal lain yang bisa dilakukan ialah dengan memberi kesempatan yang besar pada perempuan untuk mengerjakan pekerjaan yang sama dengan kaum laki-laki, juga kesempatan yang besar untuk mendapatkan promosi jika kerja mereka memang memuaskan. Tak hanya itu, komunikasi dan penjelasan yang baik tentang posisi pekerja perempuan juga harus disosialisasikan kepada pekerja yang lain.

Sumber: http://lifestyle.okezone.com